Jln. Bireuen - Takengon, Km. 10 +62812-1414-4146 ponpesmodernalzahrah@gmail.com
Suara Al Zahrah

Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen Peringati Isra’ Mi’raj 1447 H

Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen Peringati Isra’ Mi’raj 1447 H

Bireuen, 16 Januari 2026 – Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen, Aceh, menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H pada Jumat, 16 Januari 2026 M, bertepatan dengan 26 Rajab 1447 H. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan antusiasme, diikuti oleh seluruh santri serta Majelis Guru.

Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dilaksanakan di Mushalla Putra Pesantren Modern Al Zahrah. Rangkaian kegiatan diawali dengan dzikir, shalawat, serta pembacaan Surah Yasin secara berjamaah yang dipimpin oleh Ananda Reza Syahriandi, Raihan Abadi, dan M. Sulhan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausyiah yang disampaikan oleh Wakil Direktur Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Ust. Galingga Tongahari Lubis, M.Si.

Dalam ceramahnya, Ust. Galingga menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan momentum agung turunnya perintah shalat secara langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara. Hal ini menjadikan shalat sebagai ibadah yang memiliki keistimewaan dan kedudukan paling fundamental dalam Islam.

Beliau juga menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj mengandung tiga dimensi waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dimensi masa depan tergambar ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan melewati Yatsrib (Madinah), yang kelak menjadi tempat Rasulullah SAW berdakwah selama kurang lebih sepuluh tahun hingga akhir hayatnya. Dimensi masa lalu tergambar melalui persinggahan Nabi di Gunung Sinai.

Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW dituntun untuk menjadi imam shalat, sementara makmumnya adalah para nabi terdahulu. Dalam perjalanan Isra’ tersebut, Rasulullah SAW juga diperlihatkan berbagai gambaran (tamtsil) umatnya. Di antaranya, gambaran positif berupa orang yang menanam pohon lalu segera berbuah, yang melambangkan orang-orang yang gemar bersedekah. Adapun gambaran negatif berupa orang yang kepalanya dipukul hingga hancur lalu pulih kembali secara berulang-ulang, yang merupakan gambaran bagi mereka yang meninggalkan shalat.

Ust. Galingga menekankan bahwa shalat merupakan cerminan penghambaan yang paling mendasar. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mendirikan shalat, maka ia telah mendirikan agama. Dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah menghancurkan agama.” Selain itu, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab dan menjadi penentu diterima atau tidaknya amalan-amalan lainnya.

Lebih lanjut, beliau mengajak para santri untuk menjadikan peringatan Isra’ Mi’raj sebagai momentum muhasabah diri, khususnya dalam menjaga shalat lima waktu dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan. “Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi merupakan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT,” tuturnya.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta kemudahan dalam mengamalkan ajaran Islam. Melalui peringatan Isra’ Mi’raj ini, diharapkan para santri Pesantren Modern Al Zahrah semakin memahami makna shalat dan senantiasa istiqamah dalam menjalankannya.AN.-