Refleksi, Apresiasi, dan Makan Bersama “Various Generation” Santri Al Zahrah
Bireuen — Awan gelap menyelimuti langit kawasan Beunyot pada Sabtu malam (18/4/2026). Di tengah kondisi listrik yang padam, para santri Pesantren Modern Al Zahrah tetap antusias menghadiri kegiatan refleksi yang digagas oleh santri kelas akhir.
Satu per satu santri keluar dari kamar asrama menuju lokasi kegiatan. Sebagian terlihat sibuk menyiapkan hidangan ayam bakar di sudut aula, beberapa lainnya menggelar tikar serta menata meja, sementara mayoritas santri mengikuti rangkaian acara utama di ruang multimedia.
Ketua panitia, Kenali Rezeki, menyampaikan bahwa kegiatan bertajuk Taujih wal Irsyad ini merupakan inisiatif murni santri kelas akhir yang tergabung dalam “Various Generation”. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan refleksi sekaligus pesan terakhir kepada adik-adik kelas.
“Kami ingin menyampaikan pengalaman selama di pesantren agar adik-adik dapat mengambil hal-hal positif, sementara yang kurang baik cukup ditinggalkan,” ujarnya.
Rezeki menambahkan, selama enam tahun menempuh pendidikan di Al Zahrah, para santri telah ditempa menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin. Oleh karena itu, mereka berpesan agar generasi penerus tetap menjaga nama baik pesantren di tengah masyarakat.
Menariknya, kegiatan ini disebut sebagai yang pertama kali digagas secara mandiri oleh santri akhir. Persiapan bahkan telah dilakukan sejak mereka duduk di kelas 2 Aliyah, termasuk pengumpulan dana melalui kas angkatan.
“Alhamdulillah, dari tabungan kas yang kami kumpulkan sejak kelas 2 Aliyah, kegiatan ini bisa terlaksana,” ungkapnya.
Selain refleksi, “Various Generation” bersama Organisasi Santri Pesantren Al Zahrah (OSPA) juga memberikan apresiasi kepada santri yang berpartisipasi dalam lomba dekorasi taman pesantren secara berkelompok.
Ketua OSPA, Reza Pahlevi, menyebutkan bahwa kelompok dengan dekorasi terbaik mendapatkan penghargaan sebagai bentuk motivasi dan apresiasi.
Kegiatan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para santri junior. Salah satunya Ziyad Al Majid, santri kelas 1 Tsanawiyah, yang mengaku terharu sekaligus bangga atas kepedulian kakak kelas mereka.
“Kami merasa senang, tapi juga sedih karena kakak-kakak akan segera meninggalkan pesantren,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan malam bersama yang diikuti santri kelas akhir, pimpinan pesantren, serta dewan guru asrama. Tradisi penghormatan tetap dijaga, di mana para santri mempersilakan guru untuk menikmati hidangan terlebih dahulu sebelum makan bersama.
Suasana kebersamaan dan kehangatan terasa kuat hingga akhir acara, menjadi momen perpisahan yang penuh makna bagi seluruh peserta.



